Dampak Penutupan Lokalisasi Seks Komersial, Roda Ekonomi Terhenti Dan Munculnya Kasus Prostitusi Online

Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah bertekad untuk menutup seluruh lokalisasi seks yang ada di Indonesia secara bertahap. Akan tetapi bila tidak dikaji secara matang, terutama tidak disiapkan jaring ekonominya maka penutupan lokalisasi seks komersial tidak akan mencapai tujuannya malah menimbulkan masalah yang baru. Salah satu provinsi yang melakukan penutupan lokalisasi seks adalah Jawa Timur. Ada banyak lokalisasi yang sudah ditutup, salah satunya yang terletak di Balong Cangkring, Mojokerto.

                Menurut data dari Kementerian Sosial, provinsi Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah lokalisasi seks paling banyak di Indonesia dengan total PSK mencapai 7.793 orang. Dengan penutupan lokalisasi yang ada di Balong Cangkring, sudah genap 40 penutupan lokalisasi di Jawa Timur. Di Indonesia sendiri setidaknya ada 168 titik lokalisasi yang mana 70 diantaranya sudah ditutup oleh pemerintah, sehingga masih ada sisa 98 lokalisasi lagi yang harus ditutup. Kasus penutupan lokalisasi seks yang sempat heboh dan paling kontroversial adalah yang terjadi pada tahun 2014 ketika Walikota Surabaya saat itu Tri Rismaharini ingin menutup Dolly sebagai salah satu kawasan lampu merah terbesar di Asia Tenggara.

                Walaupun sudah banyak dilakukan penutupan lokalisasi, terbukti masyarakat Indonesia cukup kreatif dalam memanfaatkan teknologi. Hingga tahun 2020, sudah muncul beberapa kasus prostitusi online yang melibatkan artis-artis tanah air. Sehingga rasanya penutupan lokalisasi hanya membuka peluang prostitusi lainnya menggunakan media baru.

Akibat Pengkajian Yang Kurang Matang

Dampak Penutupan Lokalisasi Seks Komersial, Roda Ekonomi Terhenti Dan Munculnya Kasus Prostitusi Online

                Apabila dilihat dari sisi ekonomi, daerah lokalisasi merupakan unit usaha yang dapat memutar roda usaha lain disekitarnya. Misalnya saja di kawasan lampu merah Dolly, yang terimbas bukan hanya PSK saja, namun juga unit bisnis lainnya seperti warung makan dan toko kelontong. Dikutip dari Kompas, AFP memperkirakan setidaknya dana yang berputar di kawasan Dolly mencapai Rp 300 – 500 juta per harinya.

                Tentunya pemerintah telah berusaha mencarikan solusi ketika menutup lokalisasi seks, salah satunya adalah dengan mendirikan beberapa usaha seperti mendirikan pabrik sepatu. Namun dari ribuan PSK, hanya sebagian kecil yang terserap lapangan kerja tersebut. Tidak sedikit mantan PSK Dolly tetap beroperasi dengan modus yang berbeda. Karena itulah akhirnya mulai bermunculan kasus prostitusi online.

                Penutupan lokalisasi seks tidak hanya dari rencana atau program yang sudah dibuat sebelumnya, akan tetapi beberapa penutupan dilakukan secara insidental maupun dengan alasan emosional. Contohnya saja ketika Walikota Surabaya, Risma bertekad menutup Dolly ketika ia mengetahui ada seorang PSK berumur 60 tahun yang melayani siswa yang masih duduk dibangku SD. Begitu juga dengan yang terjadi di Jakarta, ketika Gubernur Ahok menutup lokalisasi di Kalijodo akibat adanya kecelakaan maut karena pengemudi berkendara sambil mabuk setelah melewatkan malamnya di Kalijodo.

                Di sisi lain, berdasarkan data dari humantrafficking.org setidaknya terdapat 40 – 70 ribu anak-anak yang dieksploitasi sebagai PSK di dalam negeri. Akan tetapi permasalahan ini masih sulit untuk diatasi hanya dengan menutup daerah lokalisasi yang ada. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang memudahkan munculnya prostitusi online.

Kasus Prostitusi Online Meningkat

kasus prostitusi online

                Lokalisasi merupakan tempat yang memungkinkan terjadinya permintaan layanan seksual dengan pekerja seks. Lokalisasi memastikan “lapangan pekerjaan” penjualan seks tersedia dan adanya pihak yang melihat hal tersebut sebagai peluang. Hanya saja penutupan lokalisasi tidak serta merta akan menyumbat atau mengurangi permintaan di masyarakat. Menjual layanan seks menjadi sesuatu yang alamiah, apalagi ketika seseorang tidak memiliki hal lain untuk ditukar. Dalam novel karya Rudyard Kipling disebutkan bahwa PSK merupakan salah satu pekerjaan tertua di dunia.

                Pernyataan di atas pun sesuai dengan yang dikatakan oleh Bupati Banyumas pada waktu itu, Achmad Husein. Ia menyadari bahwa akan sulit memberantas pelacuran dan juga menutup lokalisasi. Karena pelacuran tidak akan pernah berakhir selama ada laki-laki, selama ada permintaan dan penawaran. Karenanya jangan heran apabila beberapa tahun belakangan ini mulai bermunculan kasus prostitusi online yang dilakukan oleh artis ataupun non artis. Dengan adanya permintaan dan penawaran, walaupun tidak ada lokalisasi seks komersial namun mereka akan mencari cara lainnya, salah satunya dengan melakukan prostitusi online.

                Dengan prostitusi online, orang-orang dapat menjual dan mencari layanan seks hanya dalam beberapa klik, bahkan beberapa diantaranya tidak hanya menggunakan website saja namun sudah merambah ke media sosial. Salah satu kasus yang disayangkan beberapa tahun silam adalah ketika seorang PSK yang menjajakan layanan melalui media sosial Twitter dibunuh oleh pelanggannya. Dalam ruang privat, PSK tersebut tidak dilindungi oleh siapapun, tidak ada yang mengatur kerjanya, tidak ada yang memberikan penyuluhan mengenai PMS (Penyakit Menular Seksual) dan HIV yang mana semuanya bisa didapatkan apabila pelayanan seks dilakukan di lokalisasi. Resiko yang dihadapi PSK semakin meningkat ketika praktik prostitusi tidak terpantau.